Gambar utama untuk Analisis Tren 'Live Shopping' di TikTok: Apakah Masih Efektif di Tahun 2026?

Analisis Tren 'Live Shopping' di TikTok: Apakah Masih Efektif di Tahun 2026?

Dipublikasikan pada 21 November 2025

Banyak pemilik bisnis mulai bertanya-tanya, apakah fenomena live shopping hanyalah tren sesaat yang akan meredup sebentar lagi? Rasa jenuh mungkin mulai terlihat di beberapa sektor, namun data berbicara sebaliknya. Jika kamu berpikir untuk menghentikan strategi live streaming di tahun 2026, kamu mungkin justru sedang membuang peluang pendapatan terbesar bisnismu.

Faktanya, live shopping di Indonesia bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan telah berevolusi menjadi tulang punggung e-commerce. Pasar ini tidak menyusut, melainkan semakin dewasa dan menuntut strategi yang lebih cerdas daripada sekadar teriak "banting harga".

Indonesia Sebagai Raksasa 'Live Commerce' Dunia Validitas potensi pasar ini bisa dilihat dari angka yang fantastis. Berdasarkan data industri tahun 2024 dari Momentum Works, Indonesia menempati posisi kedua di dunia sebagai pasar terbesar TikTok Shop setelah Amerika Serikat, dengan estimasi nilai transaksi (GMV) menembus ratusan triliun rupiah. Pertumbuhan ini diprediksi masih akan naik signifikan hingga tahun 2026. Artinya, kolam pasarnya sangat besar dan "uang" yang berputar di sana sangat nyata, terutama bagi UMKM yang tahu caranya mengambil porsi kue tersebut.

Pergeseran dari 'Hard Selling' ke 'Shoppertainment' Alasan mengapa live shopping diprediksi tetap efektif di 2026 adalah evolusi perilakunya. Konsumen mulai lelah dengan gaya jualan agresif yang hanya meneriakkan diskon. Tren masa depan mengarah pada Shoppertainment, gabungan antara belanja dan hiburan. Data menunjukkan bahwa audiens lebih betah menonton live yang menyajikan konten edukasi, komedi, atau cerita di balik layar produk, dibandingkan yang hanya memajang etalase. Kuncinya ada pada interaksi manusia yang autentik, atau yang dalam psikologi marketing disebut sebagai hubungan parasosial antara host dan penonton.

Kategori Produk yang Paling Mendominasi Mengacu pada laporan tren e-commerce 2024-2025, kategori FMCG (Fast Moving Consumer Goods) dan Beauty & Personal Care masih menjadi juara bertahan dengan pertumbuhan transaksi tertinggi. Namun, ada pergerakan menarik di mana produk-produk high-value seperti elektronik dan peralatan rumah tangga mulai laku via live shopping. Ini menandakan bahwa tingkat kepercayaan konsumen terhadap format belanja video real-time sudah semakin tinggi. Mereka tidak lagi takut membeli barang mahal lewat live stream asalkan demonstrasi produknya jelas dan meyakinkan.

Psikologi FOMO Masih Menjadi Senjata Utama Efektivitas live shopping di tahun 2026 tetap akan bertumpu pada pemicu psikologis Fear of Missing Out/ (FOMO). Fitur flash sale yang hanya berlaku saat live berlangsung menciptakan urgensi yang tidak bisa ditiru oleh toko online biasa (marketplace statis). Sensasi "berebut" barang dengan penonton lain memberikan kepuasan instan (dopamin) yang membuat pelanggan kecanduan untuk kembali menonton sesi berikutnya. Selama manusia masih memiliki impuls emosional ini, format live shopping tidak akan mati.

Tantangan Baru: Kualitas Host dan Produksi Meskipun pasarnya tumbuh, persaingan di tahun 2026 akan semakin brutal. Penonton semakin kritis terhadap kualitas audio, visual, dan kemampuan komunikasi host. Live streaming dengan modal HP buram dan host yang pasif tidak akan lagi dilirik oleh algoritma. Algoritma TikTok dan platform lainnya akan semakin memprioritaskan sesi live yang memiliki retensi penonton tinggi. Oleh karena itu, investasi UMKM ke depan bukan lagi sekadar stok barang, tapi juga pada alat streaming yang layak dan pelatihan public speaking untuk tim sales mereka.

Kesimpulan, kamu bisa ubah strategi, bukan berhenti. Live shopping masih sangat efektif di tahun 2026, bahkan semakin vital. Namun, cara mainnya sudah berubah. Era "bakar uang" sudah lewat, berganti menjadi era "adu kreativitas". Bisnis yang mampu menyajikan konten live yang menghibur, edukatif, dan interaktiflah yang akan memenangkan algoritma dan dompet konsumen.