Gambar utama untuk Bukan Koperasi Biasa: Misi Besar Presiden Prabowo untuk Lumbung Pangan Kita

Bukan Koperasi Biasa: Misi Besar Presiden Prabowo untuk Lumbung Pangan Kita

Dipublikasikan pada 24 November 2025

Kalau dengar kata "Koperasi", apa yang ada di bayanganmu? Mungkin sekadar tempat simpan pinjam uang, arisan ibu-ibu, atau toko kecil di pojok desa yang sepi. Anggapan itu nggak sepenuhnya salah, karena data memang menunjukkan 70% usaha koperasi di Indonesia masih didominasi sektor keuangan. Tapi, hapus dulu gambaran itu sebentar.

Di era pemerintahan baru ini, koperasi sedang dipersiapkan untuk naik panggung utama. Presiden Prabowo Subianto punya visi yang jauh lebih besar dan strategis. Beliau menegaskan, "Saya ingin membesarkan koperasi!". Bagi beliau, koperasi bukan sekadar pelengkap, melainkan alat perjuangan dan sarana untuk membantu rakyat yang ekonominya masih lemah.

Inilah lahirnya program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Ini bukan koperasi biasa, ini adalah misi negara untuk menjadikan desa sebagai lumbung pangan kita.

Mandat Langsung: Swasembada Pangan Kenapa program ini disebut "Misi Besar"? Karena landasannya sangat kuat. Presiden Prabowo langsung mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025. Tujuannya jelas dan nggak main-main: mendukung Swasembada Pangan.

Dalam prioritas nasional pembangunan kita, swasembada pangan menempati Prioritas ke-2. Pemerintah sadar, kalau kita mau jadi negara maju (Indonesia Emas 2045), perut rakyat harus aman dulu, dan kuncinya ada di desa. Koperasi Desa Merah Putih diposisikan sebagai "mesin" yang akan menggerakkan produksi pangan ini langsung dari sentra produksinya.

Jadi, kalau dulu koperasi cuma sibuk ngurusin bunga pinjaman, sekarang koperasi diberi tugas negara: memastikan pasokan beras, jagung, sayur, ikan, dan daging di Indonesia aman dan melimpah.

Target Raksasa: 80.000 Unit Koperasi! Keseriusan misi ini bisa dilihat dari angkanya. Presiden Prabowo mengamanatkan pembentukan 80.000 unit Koperasi Desa Merah Putih yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Bayangkan, setiap desa punya satu benteng ekonomi sendiri!

Pemerintah bahkan sudah menetapkan tanggal mainnya. Peluncuran besar target ini dijadwalkan pada Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2025. Untuk memastikan target gila ini tercapai, Presiden sampai membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus lewat Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2025.

Ini bukti kalau pemerintah all out. Mereka ingin pembangunan ekonomi itu merata, dimulai dari bawah, dari desa, bukan cuma numpuk di kota besar.

Transformasi ke Sektor Riil (Agromaritim) Lalu, apa bedanya sama koperasi lama? Bedanya ada di fokus usahanya. Koperasi Desa Merah Putih didesain untuk fokus ke Sektor Riil, khususnya pertanian, perikanan, dan peternakan. Ini sejalan dengan Prioritas Nasional ke-3 yaitu pengembangan industri agromaritim.

Koperasi ini didorong punya fasilitas canggih seperti gudang pendingin (cold storage) dan armada logistik. Tujuannya supaya hasil panen petani nggak cepat busuk dan bisa didistribusikan dengan lancar. Jadi, koperasi ini benar-benar "bekerja" mengelola barang dan pangan, bukan cuma mengelola kertas tagihan.

Kembali ke Jati Diri Bangsa Di balik semua target angka dan teknologi itu, ada semangat filosofis yang mendalam. Presiden Prabowo mengingatkan kita kembali ke UUD 1945 Pasal 33: perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Selama ini, mungkin kita terlalu asyik dengan ekonomi kapitalis yang siapa kuat dia menang. Lewat Koperasi Merah Putih, negara ingin mengembalikan ekonomi ke tangan rakyat. Petani, nelayan, dan warga desa diajak bergotong royong dalam satu wadah resmi berbadan hukum.

Jadi, Koperasi Desa Merah Putih ini adalah wujud nyata dari ambisi kita untuk berdikari. Ini adalah tentang bagaimana piring nasi kita diisi oleh keringat petani kita sendiri yang sejahtera, bukan oleh impor.

Misi besar Presiden Prabowo ini tidak akan sukses kalau cuma berhenti di kertas instruksi. Butuh partisipasi kamu, saya, dan seluruh warga desa untuk menghidupkannya. Siapkah kamu menyambut wajah baru ekonomi Indonesia?