Pernahkah kamu melihat peserta pelatihan UMKM yang di awal acara tampak bersemangat, namun satu jam kemudian mulai sibuk dengan ponselnya atau bahkan mengantuk di kursi belakang? Atau mungkin, setelah pelatihan selesai, para peserta justru bingung harus mulai praktik dari mana karena materi yang diberikan terlalu teoretis?
Menyusun kurikulum pelatihan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki tantangan tersendiri. Mereka adalah praktisi yang terbiasa bekerja di lapangan, sehingga materi yang bersifat "kuliah akademis" sering kali tidak mempan.
Lalu, bagaimana cara menyusun kurikulum yang benar-benar "nyantol", tidak membosankan, dan yang terpenting: tepat sasaran? Berikut adalah panduannya.
- Gunakan Pendekatan Problem-Based Learning Jangan mulai kurikulum dengan teori dasar yang panjang lebar. Mulailah dari masalah nyata yang mereka hadapi sehari-hari.
Contoh: Daripada membuat sesi berjudul "Pengenalan Akuntansi Dasar", lebih baik buat judul "Cara Mengetahui Ke Mana Larinya Uang Jualanmu".
Ketika kurikulum berangkat dari solusi atas masalah mereka, tingkat perhatian peserta akan meningkat drastis karena mereka merasa materi tersebut adalah jawaban dari kegelisahan mereka selama ini.
Struktur 30% Teori, 70% Praktik Langsung Pelaku UMKM belajar paling cepat melalui tangan mereka, bukan hanya telinga. Kurikulum yang baik harus memberikan ruang praktik yang luas. Jika kamu mengajarkan tentang copywriting, jangan hanya memberi contoh di slide. Mintalah mereka menulis caption untuk produk mereka sendiri saat itu juga, lalu berikan umpan balik secara langsung.
Pecah Materi Menjadi Micro-Learning Otak manusia memiliki batasan dalam menyerap informasi baru, apalagi bagi pelaku UMKM yang pikirannya sering kali terbagi dengan urusan stok dan pelanggan. Pecah materi besar menjadi bagian-bagian kecil (modul pendek) yang berdurasi 15-30 menit. Berikan jeda atau aktivitas interaktif di antara modul-modul tersebut agar energi di dalam ruangan tetap terjaga.
Sesuaikan dengan Level Kedewasaan Bisnis Kesalahan umum dalam menyusun kurikulum adalah mencampur semua UMKM dalam satu kelas yang sama. UMKM yang baru memulai (start-up) butuh materi legalitas dan validasi produk, sedangkan UMKM yang ingin ekspansi (scale-up) butuh materi ekspor atau manajemen SDM. Pastikan kurikulummu memiliki tingkatan (leveling) yang jelas agar materi tidak terlalu mudah atau terlalu sulit bagi peserta.
Sertakan "Action Plan" di Akhir Sesi Pelatihan yang sukses adalah pelatihan yang menghasilkan tindakan. Kurikulum harus ditutup dengan penyusunan rencana aksi (action plan). Setiap peserta harus pulang membawa catatan: "Besok pagi, hal pertama yang akan saya ubah di bisnis saya adalah X."
Menyusun kurikulum yang seimbang antara edukasi dan hiburan memang memerlukan pengalaman mendalam. Di sinilah Afbenesia mengambil peran. Kami membantu instansi maupun komunitas dalam merancang kurikulum pelatihan yang tidak hanya atraktif, tetapi juga memiliki indikator keberhasilan yang terukur.
Metode yang kami kembangkan berfokus pada hasil akhir. Kami memastikan setiap modul yang dirancang benar-benar bisa langsung diterapkan oleh pelaku UMKM di lapangan tanpa harus merasa terbebani oleh istilah teknis yang rumit. Karena bagi kami, kurikulum yang baik bukan yang terlihat keren di atas kertas, tapi yang mampu mengubah nasib bisnis pesertanya.
Kurikulum adalah jantung dari sebuah program pemberdayaan. Jika jantungnya tidak sehat, maka seluruh rangkaian program tidak akan memberikan dampak maksimal bagi ekonomi lokal. Dengan kurikulum yang tepat sasaran, kamu tidak hanya membagikan ilmu, tapi juga memberikan harapan dan jalan keluar nyata bagi para pejuang UMKM.
Jika kamu ingin merancang kurikulum pelatihan UMKM yang komprehensif dan berdampak panjang namun tidak punya banyak waktu untuk riset, mari berkolaborasi. Tim Afbenesia siap membantu mengonsepkan pelatihan yang segar, interaktif, dan tentunya solutif bagi kebutuhan UMKM di daerahmu.
Bersama Afbenesia, mari buat pelatihan yang lebih bermakna dan berdaya guna!