Setiap kali ada ajakan bikin usaha bareng di desa, kendala utamanya pasti satu yaitu MODAL. "Kita mau bikin gudang pendingin? Duitnya dari mana?" "Mau beli truk logistik? Mahal banget tuh!"
Wajar kalau kamu skeptis. Tapi, untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pemerintah sudah memikirkan skema permodalannya dari hulu ke hilir. Koperasi ini tidak dibiarkan berjuang sendirian. Ada skema "keroyokan" pendanaan yang membuat bisnis-bisnis besar tadi sangat mungkin diwujudkan di desamu.
Dari mana saja sumber uangnya? Yuk, kita bongkar satu per satu!
- Kekuatan "Receh" Warga (Modal Anggota) Fondasi utama koperasi tetaplah anggota. Tapi jangan bayangkan iurannya mencekik leher. Belajar dari simulasi sukses di materi Koperasi Desa Merah Putih, modal awal itu dikumpulkan secara gotong royong dengan nilai yang sangat merakyat:
- Simpanan Pokok: Cukup bayar sekali di awal (misal: Rp 50.000).
- Simpanan Wajib: Iuran rutin bulanan (misal: Rp 20.000).
Mungkin terlihat kecil, tapi kalau dikalikan 100 atau 1.000 warga, uang "receh" ini terkumpul jadi modal dasar yang kuat untuk operasional awal. Ini adalah bukti keseriusan dan rasa memiliki warga terhadap koperasinya sendiri.
- Dukungan Dana Desa Koperasi ini adalah mitra strategis pemerintah desa. Oleh karena itu, regulasi memperbolehkan penggunaan Dana Desa untuk mendukung pengembangan ekonomi lokal melalui koperasi.
Pemerintah Desa bisa menyuntikkan modal penyertaan atau memfasilitasi infrastruktur dasar bagi koperasi. Jadi, Dana Desa yang selama ini mungkin hanya habis untuk proyek fisik, bisa diputar menjadi modal produktif yang menghasilkan keuntungan jangka panjang buat desa.
- Karpet Merah dari Himbara (Bank BUMN) Ini yang paling membedakan Koperasi Merah Putih dengan koperasi biasa. Pemerintah pusat menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)—seperti BRI, Mandiri, BNI—untuk memberikan skema pembiayaan khusus.
Kalau koperasimu punya rencana bisnis yang jelas (misalnya mau bangun Cold Storage atau beli alat pertanian modern), Bank Himbara siap memberikan akses kredit dengan bunga yang bersahabat. Di kisah sukses Desa Sukamaju, mereka bisa memperluas gudang dan alat produksi berkat dukungan kredit pemerintah ini.
- Hibah dan CSR Perusahaan Selain pinjaman, ada juga pintu modal yang sifatnya bantuan, seperti:
- APBN/APBD: Pemerintah menyiapkan anggaran untuk pembentukan dan pendampingan 80.000 koperasi baru.
- Hibah & CSR: Koperasi juga bisa mengakses dana hibah atau dana Tanggung Jawab Sosial (CSR) dari perusahaan swasta nasional maupun internasional untuk pelatihan SDM atau pembelian alat.
Uang bukan masalah, tapi kemauan yang utama. Jadi, kalau ditotal-total, sumber modal Koperasi Desa Merah Putih itu sangat beragam mulai uang warga, dana desa, kredit Bank BUMN, hingga bantuan pemerintah.
Dengan dukungan finansial selengkap ini, alasan "nggak ada modal" sebenarnya sudah tidak berlaku lagi. Tantangannya sekarang tinggal satu, "pakah kita warga desa punya kemauan untuk bersatu dan mengelolanya dengan jujur?"
Yuk, manfaatkan fasilitas ini. Jangan biarkan modal besar itu menganggur atau lari ke desa tetangga cuma karena kita ragu untuk memulainya!