Gambar utama untuk Kenapa Konten Video Layaknya Chat Sama Temen Terkadang Lebih Mudah Menjual?

Kenapa Konten Video Layaknya Chat Sama Temen Terkadang Lebih Mudah Menjual?

Dipublikasikan pada 19 November 2025

Dalam beberapa tahun terakhir, tren konten video yang tampil seperti ngobrol biasa dengan teman semakin populer, terutama di TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts. Gaya penyampaian yang santai, apa adanya, dan terasa “dekat” ini ternyata bukan sekadar tren semata. Banyak pemilik usaha rumahan berhasil meningkatkan penjualan hanya dengan membuat video sederhana seolah sedang ngobrol santai tanpa lighting profesional, tanpa skrip kaku, tanpa gaya bicara formal. Fenomena ini menunjukkan bahwa audiens sekarang lebih menyukai pendekatan yang natural daripada konten yang terlalu dipoles. Konten yang terdengar seperti chat antar teman menciptakan rasa kedekatan yang lebih dalam, sehingga pesan penjualan pun jadi lebih mudah masuk.

Konten yang terasa personal memicu psikologi kepercayaan. Orang lebih mudah menerima rekomendasi dari seseorang yang terdengar akrab dibanding dari brand yang berbicara terlalu formal. Ketika pembuat konten berbicara dengan nada hangat, kalimat sederhana, dan gestur natural, penonton merasakan keaslian yang jarang ditemukan pada konten promosi tradisional. Mereka merasa sedang diajak ngobrol, bukan ditawari barang. Efek ini membuat pembeli menurunkan “tembok pertahanan” mereka, sehingga pesan penjualan tidak terasa mengganggu. Ini mirip seperti ketika seorang teman menceritakan pengalaman memakai produk tertentu, kita lebih percaya karena rasanya jujur dan tidak dibuat-buat.

Video yang santai juga membuat konten lebih relatable. Banyak orang merasa canggung saat melihat iklan yang terlalu sempurna. Visualnya bagus, aktornya rapi, tetapi justru terasa jauh dari realita. Sebaliknya, konten dengan gaya “temenan” menunjukkan situasi yang lebih autentik: rumah biasa, suara berantakan, ekspresi spontan, atau bahasa campur-campur yang digunakan sehari-hari. Hal-hal kecil ini membuat penonton berpikir, “Oh, ini kayak aku banget.” Rasa dekat ini bukan sekadar hiburan, tapi menciptakan ikatan emosional antara pembuat konten dan penonton. Ketika hubungan emosional tercipta, keputusan membeli pun terasa lebih natural.

Pendekatan ini juga bekerja karena sifat manusia yang suka merasa didengar. Saat konten disampaikan dengan gaya seperti ngobrol, penonton merasa diperhatikan, bukan dijadikan target penjualan. Konten penjualan tidak lagi terdengar seperti promosi, melainkan solusi. Penonton merasa bahwa produk tersebut muncul sebagai jawaban dari masalah yang mereka alami, bukan sebagai barang yang dipaksakan. Dalam psikologi pemasaran, cara penyampaian ini jauh lebih efektif karena fokus pada empati, bukan angka.

Selain itu, konten santai biasanya lebih cepat diproses oleh otak. Tidak ada background yang ramai, tidak ada transisi berlebihan, dan tidak ada skrip yang terlalu panjang. Pesannya langsung. Di era scroll cepat ini, terkadang kesederhanaan justru menjadi kekuatan. Audiens tidak merasa lelah menonton dan bisa menangkap poin utama tanpa usaha besar. Konten seperti ini juga lebih mudah viral karena terasa ringan, mudah dipahami, dan mudah dibagikan. Orang cenderung membagikan video yang terasa jujur dan “nggak dibuat-buat”, bukan video yang terlihat seperti iklan profesional.

Pada akhirnya, konten video yang terasa seperti ngobrol dengan teman menjadi mudah menjual karena menyatukan tiga hal penting yaitu kedekatan, kejujuran, dan relevansi. Pendekatan ini menghapus jarak antara brand dan audiens, menjadikan proses penjualan terasa lebih manusiawi. Di tengah dunia digital yang penuh konten rapi dan terstruktur, justru video yang sederhana dan apa adanya bisa menjadi senjata paling kuat. Bagi pemilik usaha rumahan, gaya komunikasi seperti ini bukan hanya tren, tetapi strategi yang bisa membangun kepercayaan dengan cepat, tanpa biaya besar dan tanpa teknik rumit.