Gambar utama untuk Mengenal Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP): Apa Bedanya dengan Koperasi Biasa?

Mengenal Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP): Apa Bedanya dengan Koperasi Biasa?

Dipublikasikan pada 28 November 2025

Jujur saja, kalau mendengar kata "Koperasi", apa yang pertama kali terlintas di benakmu? Sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan sebuah kantor kecil tempat ibu-ibu arisan, tempat meminjam uang saat kepepet, atau toko kelontong sederhana yang barangnya itu-itu saja.

Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Faktanya, data menunjukkan bahwa 70% usaha koperasi di Indonesia memang masih didominasi oleh sektor keuangan alias simpan pinjam. Padahal, di kancah global, koperasi besar dunia justru hidup dari sektor pertanian dan produksi.

Berangkat dari kegelisahan itulah, pemerintah meluncurkan terobosan baru bernama Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Program ini bukan sekadar ganti nama, tapi sebuah transformasi total. Lantas, apa sih bedanya dengan koperasi biasa yang selama ini ada di sekitarmu? Mari kita bedah satu per satu.

  1. Mandat Langsung Presiden untuk Ketahanan Pangan Perbedaan paling mendasar adalah "Misi"-nya. Koperasi biasa umumnya tumbuh secara organik dari inisiatif warga. Namun, Koperasi Desa Merah Putih lahir dari instruksi langsung negara.

Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 dengan target spesifik: mempercepat pembentukan koperasi di desa untuk mendukung Swasembada Pangan. Pemerintah menargetkan pembentukan 80.000 unit koperasi ini di seluruh Indonesia yang akan diluncurkan pada 12 Juli 2025. Jadi, ini adalah "kendaraan" resmi negara untuk membangun ekonomi dari desa.

  1. Fokus Usaha: Dari "Uang" ke "Barang" (Sektor Riil) Ini perbedaan yang paling mencolok. Kalau koperasi konvensional sibuk memutar uang (simpan pinjam), Koperasi Desa Merah Putih diwajibkan fokus pada Sektor Riil.

Koperasi ini dirancang untuk mengelola bisnis nyata yang produktif, seperti:

  • Agribisnis: Mengurus pertanian, perkebunan, peternakan, hingga perikanan dari hulu ke hilir.
  • Logistik: Memiliki armada distribusi sendiri.
  • Pergudangan: Mengelola gudang pendingin (cold storage).
  • Ritel & Kesehatan: Membuka gerai sembako, apotek, hingga klinik desa.

Unit simpan pinjam tetap ada, tapi hanya sebagai pelengkap, bukan menu utama.

  1. Peran Sebagai "Aggregator" dan "Offtaker" Koperasi biasa seringkali hanya menjadi tempat berkumpulnya anggota. Namun, Koperasi Desa Merah Putih bertindak sebagai Aggregator (Pengumpul) dan Offtaker (Pembeli Siaga).

Koperasi berperan aktif memotong rantai pasok. Koperasi membeli hasil panen petani, melakukan penyortiran (grading), menyimpan di gudang pendingin, lalu menjualnya ke pasar yang lebih luas. Tujuannya jelas: menekan pergerakan broker/tengkulak dan meningkatkan harga di tingkat produsen (petani). Koperasi biasa jarang memiliki fasilitas logistik secanggih ini.

  1. Struktur Pengawasan yang Terintegrasi Desa Koperasi biasa umumnya berdiri sendiri terpisah dari pemerintah desa. Namun, Koperasi Desa Merah Putih memiliki hubungan struktural yang unik.

Untuk memastikan koperasi berjalan sesuai visi pembangunan desa, Kepala Desa atau Lurah secara otomatis menjabat sebagai Ex-Officio Ketua Pengawas Koperasi. Selain itu, pembentukannya pun harus melalui Musyawarah Desa Khusus (Musdesus). Ini menjamin bahwa koperasi tidak akan melenceng menjadi "milik pribadi" pengurus, melainkan tetap dalam koridor kesejahteraan warga desa.

  1. Profesionalisme Manajemen Sering lihat koperasi tutup karena pengurusnya sibuk kerjaan lain? Di Koperasi Merah Putih, hal itu diantisipasi. Regulasi memperbolehkan dan mendorong pengurus untuk mengangkat Pengelola (Manajer) profesional.

Koperasi ini diarahkan untuk dikelola oleh SDM yang handal, bukan sekadar sambilan. Bahkan, koperasi wajib memperhatikan standar upah (UMK) bagi karyawannya, menciptakan lapangan kerja yang layak bagi anak muda desa.

Jadi, Koperasi Desa Merah Putih adalah versi upgrade dari koperasi yang selama ini kita kenal. Ia lebih modern, lebih lengkap fasilitasnya, dan punya misi negara yang kuat. Bukan lagi soal simpan pinjam, tapi soal bagaimana petani bisa sejahtera, harga barang stabil, dan ekonomi desa bisa mandiri.

Sudah siap menyambut kehadiran Koperasi Merah Putih di desamu?