Gambar utama untuk Psikologi Diskon: Kenapa Harga Coret Masih Jadi Senjata Paling Ampuh

Psikologi Diskon: Kenapa Harga Coret Masih Jadi Senjata Paling Ampuh

Dipublikasikan pada 19 November 2025

Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, strategi diskon tetap menjadi cara paling cepat untuk menarik perhatian pembeli. Meski sudah sering melihat harga coret di mana-mana, dari marketplace, TikTok Shop, hingga minimarket dekat rumah, orang tetap merespons strategi ini dengan antusias. Alasannya sederhana diskon bukan hanya soal harga lebih murah, tapi soal bagaimana otak manusia memproses penawaran. Harga coret memicu rasa urgensi, rasa puas, dan ilusi bahwa pembeli berhasil menghemat uang, meskipun pada kenyataannya selisih diskon tidak selalu besar. Inilah kekuatan psikologi di balik strategi pemasaran yang terlihat sederhana, tetapi tetap menjadi senjata ampuh sampai sekarang.

Ketika pembeli melihat harga asli yang dicoret lalu diganti dengan harga lebih rendah, otak mereka otomatis membandingkan dua angka tersebut dalam hitungan detik. Efek ini disebut anchoring, yaitu ketika angka pertama menjadi patokan dan angka kedua terasa jauh lebih murah meski perbedaannya kecil. Harga coret membuat pembeli merasa bahwa mereka sedang mendapatkan sesuatu yang “lebih berharga daripada harga yang dibayar.” Sensasi mendapatkan keuntungan inilah yang memicu rasa puas dan mendorong pembeli untuk segera mengambil keputusan. Bahkan, banyak orang mengaku “tak enak kalau lewatkan diskon,” bukan karena butuh produknya, tapi karena takut kehilangan kesempatan yang terlihat menguntungkan.

Selain itu, harga coret juga memengaruhi emosi. Diskon menciptakan dorongan impulsif yang kuat karena memberikan perasaan menang, meski pembeli sebenarnya tidak sedang bertanding siapa pun. Ketika melihat “Rp120.000 dicoret jadi Rp89.000,” pembeli membayangkan diri mereka sebagai orang yang pintar memilih. Mereka merasa berhasil menemukan penawaran spesial yang mungkin tidak tersedia nanti. Rasa puas inilah yang memengaruhi perilaku pembelian secara spontan, terutama pada platform belanja cepat di mana keputusan membeli hanya membutuhkan beberapa ketukan.

Tidak hanya itu, harga coret juga bekerja karena memberikan rasa aman. Banyak pembeli ragu membeli sesuatu jika tidak punya acuan harga. Harga coret membantu mereka memahami nilai produk dengan lebih cepat. “Oh, tadinya segini, sekarang segini. Berarti masuk akal.” Pembeli tidak perlu berpikir panjang atau meneliti lebih dalam karena informasi visual tersebut sudah memberikan konteks harga secara instan. Dalam dunia digital yang serba cepat, semakin sedikit usaha yang harus dilakukan pembeli, semakin besar peluang mereka untuk membeli.

Pada sisi lain, strategi ini efektif karena memberi brand kesempatan membingkai nilai produk. Produk yang diberi harga coret sering terlihat lebih premium, karena pembeli percaya bahwa harga aslinya memang lebih tinggi. Ketika harga turun, nilai produk terasa semakin kuat. Inilah kenapa banyak bisnis, termasuk UMKM rumahan, menggunakan diskon untuk menarik perhatian atau mendorong pembeli baru mencoba produk mereka. Meski kesannya sederhana, penempatan harga coret yang tepat bisa membuat produk terlihat lebih terjangkau tanpa mengurangi persepsi kualitas.

Namun, penting juga bagi pelaku bisnis untuk menggunakan strategi harga coret dengan bijak. Jika terlalu sering diberi diskon, pembeli bisa kehilangan rasa urgensi dan akhirnya menunggu promo terus-menerus. Tetapi ketika digunakan pada momen yang tepat, misalnya launching produk baru, stok menumpuk, atau mendorong repeat order, harga coret bisa menjadi alat pemasaran yang sangat efektif. Kuncinya adalah membuat pembeli merasa bahwa diskon tersebut spesial, bukan sekadar trik murah yang dilakukan setiap hari.

Pada akhirnya, harga coret tetap menjadi senjata paling ampuh karena bekerja langsung pada cara otak manusia membuat keputusan. Diskon bukan sekadar potongan harga, tetapi permainan persepsi yang menciptakan rasa puas, urgensi, dan kenyamanan. Untuk pelaku usaha rumahan, memahami psikologi ini bisa membantu menciptakan strategi yang lebih cerdas, lebih halus, dan lebih menguntungkan, tanpa harus mengorbankan nilai produk yang sebenarnya.