Gambar utama untuk Strategi Koperasi Desa Merah Putih Menahan Laju Urbanisasi dengan Menciptakan Jutaan Lapangan Kerja di Desa

Strategi Koperasi Desa Merah Putih Menahan Laju Urbanisasi dengan Menciptakan Jutaan Lapangan Kerja di Desa

Dipublikasikan pada 31 Desember 2025

Fenomena urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota besar telah lama menjadi tantangan pelik bagi pembangunan Indonesia. Banyak anak muda di usia produktif merasa bahwa masa depan mereka hanya tersedia di hiruk-pikuk kota metropolitan, sementara desa perlahan hanya menjadi tempat tinggal bagi para lansia dengan aktivitas ekonomi yang stagnan. Menanggapi isu kritis ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Koperasi meluncurkan program Koperasi Desa Merah Putih sebagai strategi jangka panjang untuk memutar arah pembangunan kembali ke pedesaan.

Langkah besar ini dikomandoi langsung oleh Feri Juliantono, Menteri Koperasi Republik Indonesia. Beliau merupakan sosok yang memiliki rekam jejak panjang sebagai aktivis pemberdayaan rakyat dan dikenal vokal dalam memperjuangkan kedaulatan ekonomi masyarakat bawah.

Menteri Koperasi Feri Juliantono menegaskan bahwa koperasi desa tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai lembaga simpan pinjam skala kecil. Dalam visi pemerintah, koperasi harus bertransformasi menjadi mesin produksi, pusat logistik, dan penyedia lapangan kerja masif yang mampu memberikan penghasilan layak bagi warganya sendiri.

Menciptakan 1,6 Juta Lapangan Kerja Baru di Tingkat Akar Rumput

Salah satu poin paling menarik dalam wawancara Menteri Feri Juliantono adalah mengenai hitungan konkret potensi penyerapan tenaga kerja. Dengan target pembentukan hingga 80.000 koperasi di seluruh pelosok tanah air, potensi penyerapan tenaga kerja secara langsung sangatlah fantastis.

Menteri Feri memberikan simulasi sederhana: jika satu Koperasi Desa Merah Putih dikelola secara profesional dan menyerap minimal 20 orang tenaga kerja untuk mengisi posisi pengurus, manajer unit usaha, staf operasional retail, hingga bagian logistik, maka secara nasional akan tercipta sekitar 1,6 juta lapangan kerja baru langsung di desa.

"Ini adalah tantangan yang harus kita jawab. Data menunjukkan usia produktif di desa mencapai 45 persen, namun tingkat pendidikan sarjana masih di angka 5 persen. Inilah alasan mengapa pendampingan dan peningkatan kapasitas menjadi sangat penting, agar mereka siap menjadi subjek ekonomi, bukan sekadar penonton di daerahnya sendiri," papar Feri.

Menahan Laju Urbanisasi dengan Mengubah Mindset Masyarakat

Urbanisasi seringkali terjadi karena keterpaksaan ekonomi. Anak muda desa berpindah ke kota karena merasa desa tidak menawarkan peluang karier yang modern. Oleh karena itu, Koperasi Desa Merah Putih dirancang untuk mengelola unit bisnis yang sangat relevan dengan perkembangan zaman, seperti retail modern, apotek desa, hingga pusat pergudangan logistik.

Menteri Feri menjelaskan bahwa mengubah mindset masyarakat dari "objek penerima manfaat" menjadi "subjek pelaku ekonomi" adalah kunci utama. Dengan adanya badan hukum koperasi, warga desa kini memiliki entitas bisnis resmi yang setara dengan BUMN maupun swasta. Hal ini diharapkan dapat memicu kebanggaan dan semangat bagi anak muda untuk membangun daerahnya tanpa harus merantau ke kota-kota besar yang semakin padat.

Menghidupkan Industri Kecil dan Menengah (UMKM) Desa

Koperasi Desa Merah Putih tidak berdiri sendiri sebagai unit usaha tunggal. Ia berfungsi sebagai integrator bagi berbagai industri kecil yang ada di desa. Menteri Feri menyebutkan bahwa setiap koperasi akan didorong untuk menyerap produk-produk lokal hasil karya masyarakat setempat, mulai dari produk olahan pangan, kerajinan, hingga kebutuhan rumah tangga.

Dengan adanya 80.000 gerai retail modern yang dikelola koperasi, para pelaku UMKM desa memiliki saluran distribusi (distribution channel) yang pasti dan luas. "Bayangkan kita punya 80.000 outlet retail modern yang produknya berasal dari masyarakat desa itu sendiri. Ketika industri kecil tumbuh, penciptaan lapangan kerja pun akan meluas ke berbagai sektor pendukungnya," tambah Feri dengan optimis.

Solusi Infrastruktur: Listrik dan Internet sebagai Penunjang Bisnis

Menteri Feri menyadari bahwa modernisasi ekonomi desa mustahil terwujud tanpa dukungan infrastruktur dasar. Dalam wawancara tersebut, ia menekankan bahwa Kementerian Koperasi secara aktif berkoordinasi lintas sektoral dengan PLN, Pertamina, dan Kementerian Komdiji (Komunikasi dan Digital) untuk menyelesaikan hambatan di pedesaan.

Tujuannya jelas: memastikan setiap koperasi desa memiliki akses listrik dan internet yang stabil untuk menunjang operasional bisnis digital mereka. Dengan infrastruktur yang memadai, anak muda di desa dapat mengelola bisnis koperasinya secara modern, menggunakan sistem keuangan digital, dan terhubung dengan jaringan pasar yang lebih luas. Hal ini secara otomatis meningkatkan daya tarik desa sebagai tempat bekerja yang menjanjikan bagi generasi Z dan milenial.

Revitalisasi KUD dan Sinergi dengan BUMDES

Menteri Feri juga meluruskan keraguan mengenai keberadaan Koperasi Unit Desa (KUD) dan BUMDES yang sudah ada. Strategi pemerintah adalah melakukan revitalisasi, bukan menggusur. KUD-KUD lama yang memiliki aset gudang akan dihidupkan kembali sebagai Distribution Center (DC) untuk menyuplai barang ke Koperasi Desa Merah Putih.

Sinergi ini menciptakan ekosistem logistik yang efisien dari tingkat kecamatan hingga ke desa-desa terkecil. Keuntungan dari efisiensi logistik ini pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi, yang tak lain adalah masyarakat desa itu sendiri melalui pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) di akhir tahun.

Optimisme Menuju Kemandirian Ekonomi Nasional

Dengan hidupnya aktivitas ekonomi di desa, perputaran uang akan terjadi secara merata di seluruh Indonesia, tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota. Feri Juliantono meyakini bahwa penguatan ekonomi dari bawah melalui koperasi adalah kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.

Dalam membangun ekosistem usaha di pedesaan memerlukan tata kelola operasional yang mumpuni agar tetap profesional dan berkelanjutan. Untuk mendapatkan insight terkait pendampingan tata kelola dan strategi penguatan ekosistem UMKM, ikuti Afbenesia melalui kanal resmi kami.