Gambar utama untuk Umur Konten Cuma 24 Jam? Begini Cara Manfaatin Story untuk Penjualan

Umur Konten Cuma 24 Jam? Begini Cara Manfaatin Story untuk Penjualan

Dipublikasikan pada 19 November 2025

Banyak pemilik usaha menganggap Story di Instagram, Facebook, atau WhatsApp bukan tempat yang serius untuk jualan. Alasannya sederhana: kontennya cuma bertahan 24 jam, setelah itu hilang. Padahal, justru karena sifatnya yang sementara, Story punya daya tarik yang berbeda dibanding feed biasa. Orang merasa FOMO, takut ketinggalan, dan akhirnya lebih cepat mengambil keputusan. Story adalah ruang paling personal karena tampil di bagian teratas aplikasi, muncul setiap beberapa saat, dan terasa lebih dekat karena formatnya seperti ngobrol langsung. Bagi UMKM, terutama produk rumahan, Story bisa jadi mesin penjualan yang sangat kuat jika dipakai dengan strategi yang tepat.

Keunggulan utama Story adalah kemampuannya menciptakan urgensi. Tidak seperti postingan feed yang bisa dilihat kapan saja, Story hanya punya waktu hidup 24 jam. Ini membuat penonton merasa bahwa informasi yang muncul di sana lebih eksklusif dan tidak bisa ditunda. Misalnya, ketika pemilik usaha mengumumkan stok terbatas, promo harian, atau progress packing, orang akan lebih terdorong untuk segera bertindak. Urgensi ini sudah terbukti meningkatkan niat membeli karena konsumen merasa bahwa kesempatan bisa hilang kapan pun. Mereka berpikir, “Kalau nggak beli sekarang, besok udah nggak ada.” Sifat cepat dan sementara ini yang membuat Story menjadi media ideal untuk penawaran khusus.

Selain urgensi, Story juga menciptakan kedekatan yang lebih personal antara pemilik usaha dan audiensnya. Story memungkinkan pemilik brand menunjukkan sisi manusiawi mereka: proses harian, behind the scene, cerita singkat, dan interaksi langsung. Konten semacam ini terasa lebih natural, lebih jujur, dan lebih relatable daripada konten feed yang biasanya lebih rapi. Ketika konsumen melihat bagaimana makanan rumahan diproduksi, bagaimana pemiliknya mengemas pesanan, atau bagaimana mereka menjawab chat pelanggan, rasa percaya meningkat dengan sendirinya. Konsumen merasa tidak sedang melihat iklan, tetapi sedang berbicara dengan orang yang benar-benar menjalankan bisnis itu. Hubungan personal seperti ini membuat pembeli lebih loyal.

Story juga sangat efektif untuk menciptakan ritme komunikasi harian. Feed tidak mungkin diisi terlalu sering karena bisa mengganggu estetika dan membuat audiens merasa dibombardir. Tapi Story bisa diposting beberapa kali dalam sehari tanpa membuat orang risih. Justru semakin sering muncul, semakin brand terlihat aktif dan “hidup”. Algoritma pun lebih sering mendorong akun yang konsisten menggunakan Story. Dengan ritme yang tepat, brand bisa menanamkan awareness secara perlahan tetapi konsisten. Saat akhirnya konsumen membutuhkan suatu produk, brand yang paling sering muncul di Story akan menjadi pilihan pertama yang teringat.

Di sisi lain, Story punya fitur interaksi yang sangat kuat: polling, question box, link, countdown, hingga sticker “Add Yours”. Semua ini bukan hanya hiburan, tetapi alat untuk membaca kebutuhan konsumen secara langsung. UMKM bisa menggunakannya untuk riset mini, misalnya menanyakan varian rasa mana yang paling diinginkan, jam pengiriman yang paling cocok, atau harga paket bundling yang paling menarik. Interaksi semacam ini membuat konsumen merasa dilibatkan. Ketika mereka merasa pendapatnya diperhitungkan, mereka jadi lebih terikat dengan brand dan ini bisa berujung pada pembelian. Story bukan hanya ruang untuk posting, tetapi ruang untuk mendengarkan.

Contoh lain yang sangat efektif adalah memanfaatkan Story untuk menunjukkan bukti sosial atau social proof. Upload testimoni video, chat kepuasan pelanggan, atau foto mereka menggunakan produk bisa sangat memengaruhi calon pembeli baru. Story membuat bukti sosial tampak lebih real-time, lebih spontan, dan lebih autentik. Tidak perlu desain berlebihan, cukup tangkapan layar atau video sederhana. Justru konten seperti ini yang terasa paling jujur dan meyakinkan. Ketika calon pembeli melihat bahwa banyak orang sudah mencoba dan puas, rasa ragu berkurang drastis.

Bagi bisnis rumahan, Story juga bisa menjadi alat untuk menjaga kehangatan hubungan dengan pelanggan lama. Feed biasanya dipakai untuk menampilkan konten visual terbaik, tetapi Story dipakai untuk menyapa, mengingatkan promo, atau memberi update ringan. Pelanggan yang sudah pernah membeli akan merasa lebih dihargai ketika brand terus hadir di Story mereka. Bahkan banyak pembelian ulang terjadi bukan karena pelanggan sedang butuh, tetapi karena mereka “diingatkan” lewat Story.

Satu hal penting yang sering dilewatkan adalah konsistensi. Story harus hadir setiap hari. Tidak perlu selalu jualan, yang penting tampil. Tunjukkan aktivitas harian, packaging, stok yang datang, atau sekadar greeting pagi. Konsistensi menunjukkan bahwa usaha sedang berjalan dan berkembang. Ini menciptakan persepsi bahwa brand aktif, dipercaya banyak orang, dan layak dibeli.

Pada akhirnya, meskipun umur Story hanya 24 jam, dampaknya bisa jauh lebih panjang. Story membangun trust, menciptakan interaksi, mendorong keputusan cepat, dan menjaga hubungan dengan pelanggan. Justru karena sifatnya yang singkat, Story menjadi media yang ideal untuk membangun kedekatan dan menghadirkan brand secara lebih manusiawi. Bagi UMKM, Story bukan sekadar tambahan, ini adalah alat penjualan yang tidak boleh diabaikan. Jika dimanfaatkan dengan strategi yang tepat, Story yang hanya hidup sehari bisa menghasilkan pelanggan yang bertahan bertahun-tahun.